Ehhh Ternyata dia Sufi Jalanan

http://2.bp.blogspot.com/-VwNxbmhFmnY/VEEeT3YhirI/AAAAAAAAAI4/-JN4PhZ6yU8/s72-c/sufi-jazab.jpg click to zoom
Ditambahkan 8:24:00 PM
Kategori inspirasi
Harga Hai hai... selamat siang, bertemu lagi deh.. semoga gak bosen-bosen baca tulisan saya. ^_^ . Dimanapun kita berada tentunya banyak guru-g...
Share
Hubungi Kami
BELI

Review Ehhh Ternyata dia Sufi Jalanan

Hai hai... selamat siang, bertemu lagi deh.. semoga gak bosen-bosen baca tulisan saya. ^_^ . Dimanapun kita berada tentunya banyak guru-guru disekitar kita. Siapapun bisa menjadi guru, dan kali ini saya dapat pelajaran yang luar biasa. Bagi saya dia adalah sufi jalanan.

Di suatu waktu dan temapat ada syukuran di salah satu kerabat. Yang namanya syukuran biasanya makan-makan,,hehehe,, “asek..” gumam dalam hati. Ngobrol ngalor-ngidul dan tiba saatnya kami makan, ada yang aneh dari perilaku dia ini. Bener-bener aneh cara dia makan. Kopi dan nasi di jadikan satu, beberapa makanan buah juga di campur. Tidak biasa nih orang (gumam saya).
-----
Awalnya saya biasah-biasah saja dan tidak mampu menangkap apa yang dimaksud dia ini. Ehh... ternyata, ada makna dibalik simbol (peristiwa) yang diberikan, ada makna di baliknya.

Apa itu?... melepas kemelekatan/ keluar dari kotak / out of the box, apalagi melepas Soul dalam raga ini.

Lidah – lidah sebagai indikator saja saat masuk ke mulut, enak dan tidak enak. Akan tetapi saat diperut makanan itu akan bercampur. Tapi kita sendiri yang memilah-milah antara enak dan tidak enak. Artinya dalam kehidupan ini pasti ada yang pahit dan manis, ada yang menyenangkan dan ada yang tidak mengenakkan. Dan tanpa kita pungkiri kita akan mendapatkan dari sisi dualitas tersebut. Ini berarti masih pada tataran Mind. Artinya masih mendefinisakn enak dan tidak enak.
Perut – saat makanan sudah masuk ke perut makanan itu bercampur jadi satu, entah itu kopi, nasi, daging, buah, air jus, dll. Dari sini yang membedakan. Dalam tataran Soul, semua sama entah itu kamu, dia, mereka, aku, kita, kami, semua sama yaitu satu Jiwa.
***********
Suatu hari lagi juga dia pernah cerita tentang kisahnya saat setelah dia menyelesaikan studinya di salah satu perguruan tinggi jurusan teknik Elektro (arus kuat). Biasanya dia gak pernah cerita-cerita seperti ini, yah... karna saya penasaran, dengan berbagai teknik olah bahasa akhirnya dia mau juga cerita... hehehe. Lanjut cerita, seetelah dia selesai kuliah, dia sempat cari kerja. Tapi dia saat melamar pekerjaan tersebut tidak menggunakan ijazah kuliahnya. Dia hanya menggunakan ijazah SMP. Dari ijaah SMP tersebut dia melamar sebagai Cleaning Service. Singkat cerita akhirnya dia diterima di perusahaan tersebut, walau berijazahkan SMP.

Mungkin ada yang bilang “biasah saja, ya pantesan ijasah SMP ngalamar jadi cleaning service”.

Biasah memang, akan tetapi ditiap perjalanan dia, waktu demi waktu pada suatu saat ada masalah di bagian mesin pada perusahaan tersebut. Dan bila mesin ini rusak, para pekerja tidak bisa melanjutkan aktifitasnya. Saat dia tau bahwa mesin itu rusak, dan dia sempat melihat para teknisi kebingungan untuk memperbaiki mesin tersebut, akhirnya dia menawarkan diri pada komandan teknisi untuk mencoba membantu memperbaiki mesin yang rusak tersebut.

Jrengg...... akhirnya mesin bisa dioperasikan lagi. Dan saat itu juga dia ditawari untuk dipindah posisi jadi anggota teknisi dan dia menerimanya. Sampai selang beberapa waktu akhirnya dia bisa memposisikan sebagai Manager Teknisi. Hanya berijazahkan SMP saat melamar. Hmm..
---------
Tentunya anda dapat mengambil kesimpulan sendiri-sendiri dari cerita tersebut. Dan boleh jadi cerita semacam ini juga sudah tidak asing bagi anda. Bagi saya cerita ini menggambarkan Ketidak Terikatan/ pembelajaran ketidak Melekatan terhadap apa yang namanya Title Ijazah,, hehehe. Keberanian dia untuk mencoba mengawali dari bawah tapi kemampuannya mumpuni. Lembaran kertas berupa Ijazah hanyalah Simbol. Ruhnya ada di baliknya. Sesuatu yang tak berwujud tapi mewujud.
*****
Tidak hanya 2 cerita diatas, dia ini terkadang unik. Unik?.. Maksudnya?.. iya unik yang terkadang dia jadi penjual ‘asongan’ di keramaian. Terkadang dia juga menjadi tukang ojek. Padahal dia pintar dan uangnya lumayan lah menurut saya, dan kenalannya juga orang-orang berjabat di pemerintahan. Ditawari kuliah lagi dan gratis oleh beberapa universitas dia tolak.
------
Nah kali ini pelajaran untuk saya adalah melepas keterikatan lagi, Melepas ke Aku-an. Dan dia ini q sebut sebagai sufi jalanan. Simbol-simbol keSufi-an yang terlihat dari sikap melepas kemelekatannya dan melepas keAkuannya dari kemampuannya, hartanya, dan kewibawaannya.
***
Dia ini guru saya sekaligus teman dan sahabat sharing saya. Dan mari belajar bersama dan bertumbuh bersama memaknai di setiap Simbol-Simbol yang lebih esensi.

#Symbolic
NET Center _/|\_



Komentar