CERPEN -Mencari Simbol Hidup- bag 1

https://2.bp.blogspot.com/-vh_0MV-YqLs/V73jPNSyeuI/AAAAAAAAA_8/UT5M4a3Ay4ku98DBilBTE80anbT-5tJMgCLcB/s72-c/hm.jpg click to zoom
Ditambahkan 10:15:00 AM
Kategori Cerpen
Harga PERTEMPURAN EGO Fan apa kamu tau kalo wanita itu unik? Kamu tau kan Fan? Bagi ku Jen adalah wanita pilihanku saat ini. Keunikan ya...
Share
Hubungi Kami
BELI

Review CERPEN -Mencari Simbol Hidup- bag 1

PERTEMPURAN EGO

Fan apa kamu tau kalo wanita itu unik? Kamu tau kan Fan?
Bagi ku Jen adalah wanita pilihanku saat ini. Keunikan yang ada dalam dirinya mungkin salah satu alasannya. Tapi apakah cintaku ke dia itu bersyarat atau tidak bersyarat? Apakah aku mencintai Jen itu bisa dibilang bersyarat atau tidak? Pastinya saat aku masih membandingkan dia dengan orang lain, melihat sesuatu yang lebih dari dia dibanding orang lain, itu berarti aku masih mencintai dia dengan syarat. Syarat wanita unik salah satunya.

Haii Fan, apa kamu tau kamu itu terlalu cepat memutuskan melamar dia? Apa kamu benar-benar suka sama dia? Bagaimana dia bisa mejadi pilihanmu? Jen itu adalah wanita yang belum satu tahun kamu kenal, apakah kamu yakin?



Ahh,,, bagian dalam diriku ini selalu menanyaiku terus-terusan. Tak ada alasan dan jawaban yang pasti, yang terpenting aku perlu memperisiapkan diriku. Siap akan resiko dari setiap pilihan dan tindakanku. Apapun itu, bagaimanapun hasilnya nanti. Dan aku yakin tak ada pilihan yang buruk atau salah jika aku siap dengan setiap resiko yang aku lalui, baik maupun buruk.

Profesiku saat ini tak mudah dimengerti Jen. Yang masih sering bersentuhan langsung dengan wanita saat melakukan prosesi terapi. Juga menjadi permasalahan nantinya bila hal itu belum bisa dimengerti Jen. Apalagi bila ada jadwal workshop di luar kota, bisa seminggu penuh. Waktu luang dengan Jen bisa saja sangat sedikit.

Tapi apakah iya profesi sebagai trainer dan terapis menjadi halangan saat aku sudah menikah nanti? Tidak, tidak akan menjadi halangan, justru itu adalah modal ku, pemahamanku dan pengalamanku sebagai terapis tentu sangat berguna bila aku terapkan dalam keluargaku nanti. Dan rencanaku mengikuti beberapa pelatihan seputar parenting bersama Jen. Tau kenapa Fan? Aku ingin memiliki pemahaman yang sama dengan jen tentang pengembangan diri.

“Tuk,,tuk,, assalamualaikum,,” suara pintu terdengar. Suara ini
membangunkanku dari dialog dengan Egoku. Self Ego Therapy yang aku lakukan berhenti setelah mendengar ketukan pintu rumah.

Sepertinya suara ini tidak asing di telingaku. Masak sih dia? Tapi tidak mungkin ah,,. Aku lalu bergegas menuju pintu depan.
“selamat pagi Cak” suara riang ini ternyata Jen. Jen terlihat senyum-senyum yang seolah habis mendapatkan hadiah. Riang.
“haa,,,, Jen?” aku kaget, pagi-pagi Jen ke rumahku. Aku hanya mlongo melihat dia sudah dirumahku. “sama siapa?” aku bertanya.
“aku gak dipersilahkan duduk dulu nih Cak?” Jen memberi tahu yang memang sejak tadi aku masih kaget pagi-pagi dia sudah ada dirumah.

Lalu aku mempersilahkannya duduk. Baju longdress  warna cream dan jilbab paris warna coklat menghiasi dia pagi ini. Tampak segar dan cantik. Apalagi hidung mungilnya itu loh,,, hmm bikin gregetan. Jen datang jam 8 pagi sendiri dengan motor maticnya berwarna putih dengan perpaduan warna hijau muda. Entah apa yang membawa dia kemari pagi sekali.


“tau gak Cak kenapa aku kemari pagi-pagi sekali?” Jen cengar-cengir menunjukkan dia sedang bahagia hari ini.
“hmm... tahu lah” aku seolah-olah mampu membaca pikiran Jen. Padahal ya tidak bisa, hehehe.
“apa coba?” Jen mencibirkan bibirnya.
“nyerah deh,,, nyerah”.

Apa yang menyebabkan Jen kerumah pagi ini? ternyata dia memberi kabar kalo dia sudah berbicara kepada kedua orang tuanya tentang niatanku ingin melamar dia. Dan beliau menyetujuinya. Siapa juga yang tidak suka, Jen tentunya suka sekali bahwa orang tuanya menyetujuinya. Dan sangking bahagianya, dia pagi-pagi kerumah hanya ingin memberi tahu.

Jen bahagia dengan kabar ini, dan berniat berbagi kebahagiaan kepadaku. Ternyata kabar ini tak membuatku sebahagia Jen. Bagian dalam diriku yang tidak yakin mulai mendominasi. Aku mulai mempertanyakan atas keputusanku yang hendak melamar dia. Apa aku siap dengan keputusanku? Apakah keputusan ini hanya ego sesaat? Tiba-tiba aku bimbang.

Aku menutupkan kedua mataku, dan mulai berbicara dengan bagian-bagain dalam diriku.
“aku bimbang dengan keputusanku”
“tapi, kenapa aku bimbang? Bukankah sudah aku putuskan dan niatkan?”
“ohh,, bagian dalam diri mana yang membuat aku bimbang?”
“apakah seperti ini rasanya berada dalam kebimbangan”
“bukankah aku sudah memutuskan melamar Jen, tapi kenapa aku bimbang?”
“Jen adalah wanita yang baik, unik, menarik dan bahkan dia sangat penyabar tapi kenapa masih cemas?”

Banyak sekali bagian-bagian dalam diri yang bermunculan.

Sampai akhirnya muncullah gambar sosok Siska di benakku. Siska adalah wanita yang sempat singgah dalam cerita cintaku dan tak lama dia meninggal setelah kami bertunangan. Jatuh hatiku sama dia masih belum juga pergi, meskipun secara fisik dia sudah meninggal. Ternyata ini yang membuatku bimbang. Jauh di pikiran bawah sadarku, aku temukan memori merasa bersalah bila aku menikah dengan wanita lain.

Yah,,, merasa bersalah karena tidak menepati janji kepada Siska. Tak berpikir lama, aku gunakan saja teknik Self Ego Therapy untuk membereskan kegundahan ini. Ku perbaiki memori masa lalu, aku reframming kembali pemaknaan yang belum tepat. “alhamdulillah” ku ucapkan Syukur usai melakukan terapi.

“Cak kenapa diam?” Jen melihat kebingungan di wajahku. Aku tersenyum menatap dia “gak apa-apa”. Tak sadar aku melakukan terapi lumayan lama. Sampai lupa ada Jen ada dirumahku. Sekarang aku lebih siap dengan keputusanku, lebih ceria dan bersemangat. Aku yang dari tadi menampakkan wajah bingung dan cemas, mulai bisa kembali ceria dan bersahaja.

Jen yang tidak tau apa yang terjadi padaku barusan, ikut ceria kembali setelah melihat kecemasanku berubah menjadi sumringah. Menyimpan emosi negatif seperti bimbang dan cemas tidaklah baik menurutku. Bila disimpan terlalu lama malah akan berdampak pada kesehatan. Dan akupun mencoba mendamaikannya dari emosi negatif yang hadir. Bukan lagi menghilangkannya.


****bersambung****



Komentar