CERPEN -Mencari Simbol Hidup- Bag 3

https://3.bp.blogspot.com/-ubsYR7zRKRI/V73oBrZwamI/AAAAAAAABAU/AAXMTWIMCqYGtmoFutUXSzLeEPXnILmBACLcB/s72-c/s4.jpg click to zoom
Ditambahkan 10:32:00 AM
Kategori Cerpen
Harga MENJADI PENDENGAR YANG BAIK “lohh,, kok hujan-hujan kesini? Kan jadi basah..” kataku mempersilahkan Ani segera masuk dari jeratan hujan...
Share
Hubungi Kami
BELI

Review CERPEN -Mencari Simbol Hidup- Bag 3

MENJADI PENDENGAR YANG BAIK

“lohh,, kok hujan-hujan kesini? Kan jadi basah..” kataku mempersilahkan Ani segera masuk dari jeratan hujan lebat.

Aku bergegas mengambilkan handuk untuk dia. Kuberi isyarat kakak perempuanku untuk memberikan baju pengganti untuknya yang basah kuyup. Segera kuminta Ani mengeringkan badannya dan menganti pakaiannya dikamar mandi.



“Jen, dia perempuan yang pernah jadi peserta pelatihanku” kataku singkat agar Jen tak bertanya-tanya.
Diluar masih hujan lebat, kilatan halilintar terlihat terang seperti camera yang seolah-olah siap memotret jagad raya. Aku dan Jen menunggu Ani selesai ganti baju. Aku khawatir Jen cemburu lagi, yang terlihat raut wajah dia sudah tak memancarkan keceriaanya kembali. Spertinya dia cemburu dan khawatir, Itu yang ku tangkap dari wajah Jen. Tak lama kemudian Ani datang dan kupersilahkan duduk di ruang tamu bersama kami.

Dua menit setelah Ani duduk, Jen tiba-tiba pergi dari ruang tamu. “apa dia benar-benar cemburu ya” batinku. Wah gawat bisa-bisa Ani melihat ketidak nyamanan Jen saat dia datang. Ani dengan rambut basahnya, bibirnya yang biru karena kedinginan, baju dari kakak perempuanku yang dipakainya juga terlihat besar. Meskipun begitu Ani tetap cantik. Hehe...

Dari arah dapur Jen datang membawakan Teh hangat untuk Ani. Alhamdulilah dia tidak cemburu ternyata. Buktinya Jen mau membuatkan Teh hangat untuk Ani. Satu tahun lebih tua Ani ketimbang Jen. Meskipun selisih satu tahun mereka berdua terlihat masih seumuran dan semuanya cantik.

Wanita pegawai swasta di salah satu perusahaan Susu Formula ini tiba-tiba menangis. Wajahnya yang semula tampak putih dan segar dapat guyuran hujan, kini berubah merah. Beberapa kali tangannya membersihkan air mata yang menetes tiada henti. Jen yang melihat Ani menangis, juga ikut merasaka sepertinya. Mungkin karena sama-sama wanita, jadi dia mencoba memahami isi hati kaumnya ini.

Jen yang semula duduk disampingku sekarang pindah kekursi depanku, di samping kanan Ani. “mbak, udah gak apa-apa, semua pasti berlalu kok” Jen menenangkan seolah-olah apa yang dirasakan Ani, Jen tau.

Ani sudah mulai tidak mengeluarkan air mata lagi, meskipun isak tangis masih ada, wajah yang merah dan mata panda yang terlihat jelas mengukir di wajahnya. Dia mulai bercerita tentang keadaannya akhir-akhir ini. Apa yang dialaminya membuat dia hampir memutuskan mengakhiri hidup.

Ani yang bekerja di perusahaan susu formula dengan posisi yang cukup menjanjikan ini bermula dari seorang teman yang sudah 5 bulan dikenalnya. Aku dan Ani yang ketemu pertama kali 4 bulan yang lalu dalam sebuah pelatihan juga sempat membicarakan pria yang dikenalnya ini. 2 bulan yang lalu Ani dan pria itu memutuskan untuk menjalin hubungan dekat.

Pria yang berumur 3 tahun diatas Ani ini mengaku bekerja di salah satu Bank swasta. Awalnya hubungan mereka sangat baik. Dan pria ini sudah membuat Ani percaya sama dia. Janji yang diberikan akan menikahi Ani jarak dekat ini. Yahh,,, siapa juga yang tak mau dinikahi oleh pria tampan apalagi pegawai Bank, tentunya Ani sangat senang. Ani yang belum punya pasangan tentunya mengaharapkan dapat pasangan hidup yang dia inginkan, dan itu ada pada si pria tersebut.

Kesenangan Ani tidak berujung lama. Semula si pria meminjam uang Ani dengan nominal lumayan gede, senilai Rp.500.000.000. Alasannya untuk membayar kekurangan usaha warung makan dan toko pakaian yang mulai dibangunnya. Ani langsung memberinya uang tersebut, tanpa curiga. Namanya juga cinta, katanya.

Karena sayangnya Ani, sampai-sampai dia memberikan harta terbesarnya yaitu Keperawanan pada si pria. Ani menjalin hubunganya tak kurang dari satu bulan setengah. Setelah itu, pria tersebut pergi entah kemana. Uangnya raib dibawa pergi, keperawannanya juga lebur.

Ternyata pria tersebut bukan pegawai Bank. Dia juga tidak punya usaha warung makan dan toko pakaian. Rencana besar pria tersebut berhasil sukses, sesukses-suksesnya. Disusun sangat rapi dan nyaris tidak ada celah untuk orang tidak percaya. Pria penipu ini pergi entah kemana. Dan ternyata banyak orang yang dikibuli olehnya tidak terkecuali Ani.

“mas, apa yang harus aku lakukan?” suara tangis Ani semakin kencang. Ani yang tak kuat menahan emosinya memeluk Jen yang ada di samping kanannya.
“mbak Ani, tenangin diri dulu” aku mencoba berbicara.
“iya mbak, mbak Ani ambil wudhu aja dulu deh lalu sholat sunah biar jiwa lebih tenang” Jen menambahkan sambil mengelus-elus punggung Ani.

Ani menuruti apa kata Jen. Karena badan dan kakinya lemas disebabkan kebanyakan menangis akhirnya Jen bantu memapahnya pergi kekamar mandi.

Sepuluh menit kemudian Ani kembali keruang tamu dengan wajah sudah sedikit cerah. Terlihat senyum kecilnya tampak dipaksa. Ani kembali duduk di kursi yang tadi dia duduki dan menyeruput Teh yang sudah disediakan Jen sejak tadi. Mungkin saja  dia haus karena habis menangis .

Sebenarnya saat sudah menceritakan apa unek-uneknya yang menyangkut emosi. Itu juga sudah bentuk terapi. Apalagi menceritakannya diikuti dengan emosi yang intens. Ditambah lagi dengan leading dan motivasi. Dalam kasus Ani ini, sebenarnya dia tidak butuh saran orang lain. Dia hanya butuh pendengar yang mau mendegarkan curahan hatinya. Apalagi wanita dengan posisi manager muda yang dia punyai, tentunya banyak rencana setelah ini yang lebih besar dan berhati-hati dalam menaruh kepercayaan terutama pada seorang pria.

Setelah Ani lebih tenang, aku hanya melakukan terapi sederhana. Yaitu mengkonsdisikan berdamai dengan diri sendiri, menerima diri apa adanya, menerima apapun yang sudah didapatkan baik yang negatif maupun posisitf dan memafkan siapapun orang yang telah berlaku buruk kepadanya. Kugunakan teknik Hypno-EFT dan terapi air agar dia mampu mengkondisikan dirinya sendiri untuk lebih tenang, aman dan damai.

Jen yang melihat proses terapi ini secara langsung membuat dia lebih mengerti bahwa profesi yang aku lakukan tidak mudah. Butuh ketelatenan dan kemampuan khusus saat terapi. Jen akhirnya bisa sangat mengeri profesiku. Dia juga sekarang sudah tidak cemburu dan apalagi marah saat aku dekat dengan client karena itu salah satu proses service dan menjaga hubungan baik kepada client


***bersambung***



Komentar